LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PEMISAHAN ANALITIK
PERCOBAAN II
(PEMISAHAN
DAN PENENTUAN KADAR ASAM LEMAK DARI SABUN)
OLEH
AWIN J RAHIM
441 410 055
KIMIA A

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGRI GORONYTALO
2012
LAPORAN PRAKTIKUM
(DASAR-DASAR PEMISAHAN ANALITIK)
PERCOBAAN II
A. JUDUL : PEMISAHAN
DAN PENENTUAN KADAR ASAM LEMAK DARI
SABUN
B. TUJUAN : Agar
mahasiswa dapat memahami penggunaan dan prinsip kerja ekstraksi
C.
DASAR
TEORI
Ekatraksi
pelarut
Ekstraksi
pelarut atau disebut juga ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling
baik dan populer. Alasan utamanya adalah pemisahan ini dapat dilakukan baik
dalam tingkat makro ataupun mikro. Prinsip metode ini didasarkan pada
distribusi zat pelarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang
tidak saling bercampur , seperti benzen, karbon tetraklorida atau kloroform.
Batasan nya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbada dalam
kedua fase pelarut.
Dengan jalan
pengocokan proses ekstraksi berlangsung, mengingat bahwa proses ekstraksi
merupakan proses kesetimbangan maka pemisahan
salah satu lapisan pelarut dapat dilakukan setelah kedua jenis pelarut dalam
keadaan diam. Lapisan yang ada dibagian bawah dikeluarkan dari corong dengan
jalan membuka kran corong dan dijaga agar jangan sampai lapisan atas ikut
mengalir keluar. Untuk tujuan kuantitatif, sebaiknya ekstraksi dilakukan lebih
dari satu kali.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah:
Ekstraksi lebih
efisien bila dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut yang lebih kecil daripada
jumlah pelarutnya banyak tetapi ekstraksinya hanya sekali (Arsyad, 2001).
Prinsip dasar
Prinsip
dari ekstraksi pelarut adalah pemisahan secara komponen dari zat terlarut
di dalam dua campuran pelarut yang tidak saling bercampur. Biasanya digunakan
dalam kimia organik dan lain - lain.Jika zat terlarut antara dua cairan tidak
saling larut, ada suatu hubungan yang tepat antara konsentrasi zat terlarut
dalam kedua fasa terlarut pada keadaan kesetimbangan. Zat tersebut akan
terdistribusikan atau terbagi dalam kedua pelarut tersebut berdasarkan
koefisien distribusi.
Hukum distribusi
Partisi zat terlarut (solut)
dalam dua pelarut
yang tidak bercampur ditentukan oleh hukum distribusi. Jika solut A
terdistribusi dalam suatu fase dan organik, maka kesetimbangan yang dihasilkan
dapat ditulis sebagai :
Dimana
aq dan or masing-masing adalah fasa cair dan fasa organik. Rasio aktivitas A
dalam kedua fasa tersebut konstan dan tidak tergantung pada jumlah total A.
Dengan demikian pada fasa sembarang tercampur.
K = [ Aorg
] / [A(aq) ]
Dimana konstanta kesetimbangan K adalah koefisien partisi atau koefisien distribusi. Pernyataan dalam kurung
adalah aktivitas A dalam dua pelarut yang sering diganti dengan konsentrasi
untuk larutan yang relatif encer. Harga K sering merupakan pendekatan
perbandingan kelarutan A pada masing-masing pelarut.
Keadaan
solut dalam dua pelarut tersebut kemungkinan berbeda sehingga akan lebih baik
jika kesetimbangan tersebut dituliskan :
K = [
(Ax)org]y [ (Ay)org]x
Koefisien
partisi dapat dipakai untuk menetapkan kondisi percobaan yang diperlukan agar
suatu dapat ditransfer dari satu pelarut ke pelarut yang lain.
(Modul Praktikum DDPA. 2012. Hal :
4-5)
Hukum distribusi atau partisi dapat
dirumuskan: bila suatu zat terlarut terdistribusi antara dua pelarut yang tidak
dapat campur, maka pada suatu temperatur yang konstan untuk setiap spesi
molekul terdapat angka banding distribusi yang konstan antara kedua pelarut
itu, dan angka banding distribusi ini tidak tergantung pada spesi molekul lain
apapun yang mungkin ada. Harga angka banding berubah dengan sifat dasar
pelarut, sifat dasar zat terlarut, dan temperatur.
(Svehla, 1990).
Hukum ini dalam bentuk yang sederhana,
tidak berlaku bila spesi yang didistribusikan itu mengalami disosiasi atau
asosiasi dalam salah satu fasa tersebut. Pada penerapan praktis ekstraksi
pelarut ini, terutama kalau kita perhatikan fraksi zat terlarut total dalam
fasa yang satu atau yang lainnya, tidak peduli bagaimanapun cara-cara
disosiasi, asosiasi atau interaksinya dengan spesi-spesi lain yang terlarut.
Untuk memudahkan, diperkenalkan istilah angka banding distribusi D (atau
koefisien ekstraksi E).
Asam lemak
Asam lemak merupakan asam lemah, yang di dalam air akan terdisosiasi
sebagian. Umumnya asam lemak berfase cair atau padat pada suhu ruang (27 °C).
Semakin panjang rantai karbon penyusunnya, semakin mudah membeku dan juga
semakin sukar larut. Asam lemak dapat bereaksi dengan senyawa lain membentuk
persenyawaan lipida.
Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat
tinggi (memiliki rantai karbon lebih dari 6). Asam lemak dibedakan menjadi asam
lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh hanya memiliki ikatan
tunggal di antara atom-atom karbon penyusunnya, sementara asam lemak tak jenuh
memiliki paling sedikit satu ikatan rangkap diantara atom-atom karbon
penyusunnya. Kedua jenis ikatan dalam asam lemak inilah yang menyebabkan
perbedaan sifat fisik antara asam lemak satu dengan lainnya.
Asam lemak Esensial
Asam
(GLA; C18-3,n-6) adalah asam lemak pre-esensial yang
merupakan senyawa intermedier pada biokonversi asam linoleat menjadi asam
arakhidonat. Minyak kaya GLA banyak digunakan dalam pengobatan beberapa
gangguan klinis seperti atopic eczema, sklerosis ganda, dan rematik
artritis bagi orang-orang yang mengalami gangguan pada kerja enzim 6-desaturasenya
Sumber GLA adalah biji evening primrose (Oenothera
bienis L.), borage (Borago officinalis L.), minyak kapang
dari Mucor spp. dan Mortierella spp. Di bidang pangan minyak borage
telah digunakan sebagai makanan kesehatan dan bahan formulasi makanan bayi, dan
minyak dengan kandungan GLA tinggi juga digunakan sebagai bahan baku
produk-produk kosmetika tertentu Terdiri dari EPA (eicosapentaenoicacid,C20:5)
dan DHA (docosahexaenoic acid, C22:6)
Emulsi
Emulsi
adalah suatu sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat bercampur,
biasanya minyak dan air yang stabilitasnya dapat dipertahankan dengan emulgator
atau zat pengelmusi. Emulsi yang mempunyai fase dalam minyak dan fase luar air
disebut emulsi minyak-dalam-air dan biasanya diberi tanda sebagai emulsi “M/A”.
Sebaliknya emulsi yang mempunyai fase dalam air dan fase luar minyak disebut
emulsi air-dalam-minyak dan diberi tanda sebagai emulsi “A/M”.
Teori Emulsi :
a.
Teori tegangan permukaan
Suatu molekul memiliki tegangan yang berbeda.
Tegangan yang terjadi pada permukaan disebut tegangan permukaan. Dan tegangan
yang terjadi antara dua zat yang tidak bercampur disebut tegangan bidang atas.
Semakin tinggi tegangan yang dimiliki, semakin sulit untuk bercampur. Tegangan
yang terjadi pada air dapat bertambah bila diberi garam-garam an-organik dan
larutan-larutan elektrolit. Namun, tegangan ini dapat dikurangi bila
ditambahkan senyawa-senyawa an-organik tertentu, seperti sabun (sapo,prosesnya
disebut saponifikasi).Penambahan emulgator, dapat menghilangkan tegangan yang
terjai pada masing-masing molekul, sehingga dua zat yang tidak dapat bercampur
menjadi tercampur.
b.
Teori Oriented Wedge
Dalam suatu sistem yang mengandung dua cairan
yang tidak saling bercampur, zat pengemulsi akan memilih larut dalam salah satu
fase dan terikat kuat dalam fase tersebut dibandingkan dengan fase lainnya.
Karena umumnya, emulgator memiliki suatu bagian hidrofilik (suka air) dan
hidrofobik (tidak suka air, tapi biasanya lipofilik atau suka minyak)
molekul-molekul tersebut akan mengarahkan dirinya ke masing-masing fase. Dengan
demikian emulgator seolah menjadi tali pengikat antar molekul, sehingga terjadi
suatu kesetimbangan.
c.
Teori Interparsial Film
Emulgator akan diserap pada batas antara air
dan minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel
dispersi. Dengan terbungkusnya partikel tersebut, maka usaha antara partikel
yang sejenis untuk bergabung terhalang. Dengan kata lain fase dispers stabil.
Syarat emulgatornya : Dapat membentuk lapisan film kuat tapi lunak, jumlahnya cukup untuk menutup permukaan fase dispers, dapat membentuk lapisan film dengan cepat, menutup permukaan partikel dengan segera.
Syarat emulgatornya : Dapat membentuk lapisan film kuat tapi lunak, jumlahnya cukup untuk menutup permukaan fase dispers, dapat membentuk lapisan film dengan cepat, menutup permukaan partikel dengan segera.
d.
Teori Electric double Layer (Lapisan Listrik
Rangkap)
Jika
minyak terdispersi dalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan dengan
minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya mempunyai muatan
yang berlawanan dengan lapisan di depannya. “seolah-olah tiap partikel minyak
dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan”. Benteng
tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan mengadakan
penggabungan menjadi satu molekul besar. Karena susunan listrik yang
menyelubungi setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama . Dengan
demikian antara sesama partikel akan tolak menolak.
D.
ALAT
DAN BAHAN
Alat
Corong pisah Statif
dan Klem

Neraca
Analitik
Buret
Erlemeyer
Pipet tetes


Kaca
arloji
Labu takar



Gelas
ukur
Corong

Pipet
volum
Bahan
1) Sabun
2) n-heksan
3) methanol
4) Air
suling
5) Larutan
NaCL jenuh
6) Phenoptalein
7) NaOH
0,01 N
E.
PROSEDUR
KERJA
![]() |
![]() |
Mengencerkan
menjadi 500 mL dalam labu takar
3x pada lapisan n-heksan)
![]() |
![]() |
||||
![]() |
F.
HASIL
PENGAMATAN
|
PERLAKUAN
|
HASIL PENGAMATAN
|
|
Ø Memotong
kecil-kecil kemudian menimbang 0,5 gram
Ø Melarutkan
kedalam 400 mL air kemudian menambahkan 1-3 tetes phenopthalein setelah itu dipanaskan
hingga larut kemudian didinginkan dan diencerkan menjadi 500 mL kedalam labu
takar.
Ø Mengambil
20 mL slarutan sabun dimasukan kedalan corong pisah kemudian ditambahkan 10
mL n-heksan setelah itu dikocok dan terbentuk emulsi, untuk menghilangkan emulsi
ditambahkan NaCL jenuh.kemudian dikocok lagi selama 10-15 menit setelah itu
didiamkan.
Ø n-heksan
ditambahkan 10 mL air dan 2 tetes indicator pp kemudian dikocok dan didiamkan
setealah itu.
Ø Dipisahkan
Ø N-heksan
ditambahkan 10 mL air lagi kemudian dikocok kembali setelah itu didiamkan dan
dipisahkan lagi
Ø N-heksan
ditambahkan 20 mL methanol dan dikocok selaman 10-15 menit kemudian didiakan
setelah itu dipisahkan
Ø N-heksan
dimasukan kedalan erlemeyer 150 mL dan ditambahkan 2 tetes indicator pp
kemudian dititrasi dengan NaOH 0,01 N
|
ü 0,5
gram sabun
ü Larutan
sabun
ü Terjadi
dua lapisan,yaitu fasa organic (n-heksan) dan fasa air
ü Terjadi
perubahan warna dari bening menjadi ungu muda dan mengandung emulsi
ü Terbentuk
dua lapisan,fasa organic dan fasa air
ü Fasa
organik (n-heksan) dan air
ü Pada
0,2 mL NaOH terjadi perubahan warna menjadi ungu.
|
Perhitungan
Dik
: Perc.1:
V1=0,01
mL, N1=0,2 , V2=7 mL,
Perc.2
V1=0,01
mL, N1=0,1, V2=3 mL
Dit
: N2……..??
Peny
:
N1V1=N2V2
Perc.1:


Perc.2:


G.
PEMBAHASAN
Ekstraksi
pelarut atau disebut juga ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling
baik dan populer. Alasan utamanya adalah pemisahan ini dapat dilakukan baik
dalam tingkat makro ataupun mikro.Dengan jalan pengocokan proses ekstraksi
berlangsung, mengingat bahwa proses ekstraksi merupakan proses kesetimbangan maka pemisahan
salah satu lapisan pelarut dapat dilakukan setelah kedua jenis dikeluarkan dari
corong dengan jalan membuka kran corong dan dijaga agar jangan sampai lapisan
atas ikut mengalir keluar. Untuk tujuan kuantitatif, sebaiknya ekstraksi
dilakukan lebih dari satu kali.
Dalam percobaan ini
yang pertama kali dilakukan adalah memnyiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan.Setelah itu melakukan percobaan,dengan menggunakan prosedur yang
telah digunakan yaitu dibahas dalam pembahasan di bawah ini:
Yang pertama memotong
kecil-kecil sabun yang telah disediakan,kemudian ditimbang dalam timbangan
analitik sebanyak 0,5 garam.setelah itu melarutkan kedalam 400 mL air,dan
ditambahkan 1-3 tetes phenopthalein,dalam penambahan ini terjadi perubahan
warna menjadi warna ungu,kemudian diaduk setelah itu dipanaskan hingga hampir
mendidih,kemudian mendinginkannya,setelah itu diencerkan menjadi 500 mL dalam
labu takar,yang dihasilkan adalah larutan sabun.
Larutan sabun ini diambil 20 mL dengan pipet,kemudian kedalam
corong pisah dan ditambahkan 10 n-heksan lalu dikocok,setelah dikocok larutan
terbentuk emulsi,untuk menghilangkannya ditambahkan 10 mL larutan NaCL
jenuh.kemudian dikocok lagi selama 10-15 menit fan setelah itu dibiarkan
beberapa menit,larutan menjadi dua lapisan kemudian dipisahkan.yang dihasilkan
adalah fasa organic (n-heksan) dan fasa air.
Lapisan n-heksan yang telah dipisahkan
dimasukan kedalam corong pisah,dan ditambahkan 10 mL air dan 2 tetes indicator
pp kemudian dikocok.setelah dikocok dibiarkan beberapa menit setelah itu
dipisahkan dan lapisan air dibuang,kemudian untuk n-heksan yang telah
dipisahkan ditambahkan lagi 10 mL air,setelah itu dikocok lagi,didiamkan
kemudian dipisahkan.
Lapisan n-heksan ditambahkan 20 mL
methanol lalu dikocok selama 10-15 menit,kemudian dibiarkan.lapisan n-heksan
dipisahkan kedalam erlemeyer 150 mL dan ditambahkan 2 tetes aindikator pp
setelah itu dititrasi dengan menggunakan NaOH 0,91 N.setelah dititrasi pada
volume 0,2 mL NaOH terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda.
H.
KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah
dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
Gorontalo,19
April 2012
Praktikan
Awin j rahim
DAFTAR PUSTAKA




